Hidung Pesek vs Hidung Mancung
Hidung orang Kukasia di Eropa umumnya mancung sedangkan orang berdarah mongoloid di Asia punya hidung mungil, tidak terlalu mencuat dan tulang dekat ujung dan cuping hidungnya lebih lentur, alias berhidung pesek.
Hidung pesek menurut penulis keren juga. Zaman pebulutangkis Ardy B.W. berjaya dahulu di tahun 90-an, di mata saya Ardy B.W. sangat gagah dengan rambut panjang, cuping hidung lebar, serta lobang hidung besarnya. Hidung pembawa hoki kata sementara orang. Ingin rasanya punya hidung seperti itu.
Pada akhir abad ke-19, Arthur Thomson, seorang anthropolog dan anatomist Inggris mengatakan bahwa bentuk hidung berkaitan dengan iklim. Orang dari daerah beriklim panas cenderung memiliki hidung yang lebih rata dan tebal sedang orang dari daerah beriklim dingin cenderung berhidung lebih panjang (mancung) dan tirus.
Salah satu fungsi hidung adalah untuk memanaskan dan melembabkan udara yang kemudian mauk ke paru-paru. Jika hidung lebih panjang, maka semakin lama pula rentang waktu pemanasan udara di buluh hidung. Demikian pula sebaliknya, di daerah panas, udara tak perlu lama-lama dipanaskan, sehingga panjang hidung diirit. Tentunya teori ini berkaitan dengan paham teori evolusinya Darwin yang di Indonesia banyak ditentang para pemeluk teguh...
Walau teori hidung yang disebut Thomson's Nose Rule ini sudah uzur, namun tak ada yang mematahkannya sampai sekarang
Evolusi memerlukan waktu beribu-ribu tahun, itulah sebabnya orang berdarah Indonesia yang lahir di negara Eropa tidak serta merta berhidung mancung.
..
Corat- coret iseng malam
gs



No comments:
Post a Comment