Sunday, 1 November 2020

 Renungan tentang Bidadari

Kisah paling indah tentang bidadari yang pernah saya dengar adalah kisah tentang Rajapala ( dalam cerita Jawa disebut Joko Tarub), seorang pemuda bumi biasa yang berhasil menikahi seorang bidadari yang cantik luar biasa, Ken Sulasih ( di versi Jawa di sebut Nawang Wulan) dengan tipu daya. Ketika ia sedang berburu, tanpa sengaja ia melihat lalu mengintip tujuh bidadari yang sedang mandi di sebuah kolam dalam hutan. Ia mencuri salah satu selendang sakti yang bergeletakan, karena ia tahu bahwa selendang itu adalah alat terbang seorang bidadari. Ken Sulasih, pemilik selendang yang dicuri, tak punya pilihan karena ditinggal teman-temannya ke kahyangan di petang hari, menerima ajakan si pemuda untuk tinggal sementara di rumahnya sampai selendang itu ditemukan. Akhirnya karena sering bersama tumbuhlah cintanya kepada Rajapala dan kemudian ia setuju dipersunting olehnya.
Singkat cerita, pernikahan itu menghasilkan seorang anak bernama Durma. Sungguh sayang, ketika Durma masih kecil, karena musim kemarau berkepanjangan, ibunya yang harus mengambil padi simpanan di lumbung padi, menemukan selendang terbangnya di bawah ikat padi terakhir. Di situlah ternyata sang suami menyembunyikannya selama bertahun-tahun. Dengan berat hati, ia terbang ke langit meninggalkan anak dan suaminya karena bagaimanapun rumahnya adalah di "svarga" (sorga).
Saya mendengar cerita ini beberapa kali dengan berbagai bumbu. Dan suatu kali ada yang menceritakannya begini, "Jadi para bidadari itu walau tinggal di taman sorga yang indah, kadang bosan juga dan mereka perlu jalan-jalan di berbagai pelosok alam semesta, termasuk ke bumi. Sesungguhnya planet kita ini pun seindah sorga, tapi sayangnya kita tak menyadarinya dan menghargainya." Sungguh penyampaian yang meluaskan imajinasi dan pemikiran seorang anak.
Selain itu saya juga mendengar atau membaca
kisah tentang bidadari lainnya . Ada kisah Arjuna Wiwaha tentang Supraba yang dijadikan hadiah buat Arjuna karena telah membebaskan kahyangan dari invasi raksasa Niwatakawaca. Kadang diceritakan pula bahwa para bidadari kerap menganggu meditasi para pertapa dengan kemolekan dan kecantikan agar mereka gagal dalam usaha untuk mencapai pembebasan rohani.
Kata bidadari berasal dari bahasa Sanskerta vidyadari (dibaca widyadari , karena v dibaca w dalam penulisan latin dari Sanskerta). Bidadari dalam mitologi Hindu adalah mahkluk cantik penghuni alam yang lebih tinggi dari alam kita. Mahkluk penuh cahaya dan kadang pula disebut mahkluk etherial. Pokoknya top model bumi yang tercantik pun kalah jauh dari kecantikan bidadari.
Para vidyadari adalah perempuan sedang kaum prianya disebut vidyadara. Dalam mitologi Hindu diceritakan bahwa Indra adalah pimpinan kahyangan dan ia sangat suka tari-tarian yang dibawakan oleh para vidyadari yang kadang juga disebut apsara. Mereka menari diiringi oleh musik yang dibawakan oleh para gandarwa, mahkluk bersinar musisi sorga. Sorga banyak penghuninya.
Walau mengenal istilah svarga dan naraka, tapi konsep sorga neraka kurang dibahas dalam Hinduisme dan Buddhisme yang saya kenal karena kebetulan saya lahir di pulau Bali. Dalam Hinduisme, sorga dan neraka kurang ditekankan dibanding konsep hukum Karma. Dan sorga bukanlah tujuan akhir, hanya tempat sementara seperti halnya dunia. Dan tujuan utama adalah moksa atau kebebasan spiritual, kebebasan dari belenggu kelahiran dan kematian yang berulang-ulang, bebas dari reinkarnasi.
Para pemimpin spiritual yang saya kenal umumnya menghindar kalau ditanya orang tentang apakah sorga dan neraka itu benar-benar ada. Ada yang menjawab bahwa ia tidak tahu karena belum pernah meninggal, ada yang menjawab dengan senyum.
Ada yang menjawab dengan kutipan sanskerta "na svargo na rasatalah" yang bermakna : tiada sorga dan neraka, seperti di sebuah perguruan Tantra Yoga yang pernah saya ikuti. Bahwa sorga dan neraka itu hanya simbol, alat untuk mengiming-imingi manusia agar menjauhi kejahatan dan mencintai kebijaksanaan. Penggambaran sorga pun mirip keadaan di dunia: ada berbagai kesenangan, ada bidadari yang cantik, ada beraneka buah-buahan, musik dan tari, para musisi. Tak jauh dari gambaran kesenangan duniawi. Sorga dan neraka adalah lebih merupakan "state of mind". Svarga sendiri dalam bahasa Sanskerta berarti cahaya atau terang.
Ketika saya dulu kuliah di Yogya ada teman yang berusaha menkonversi saya ke agama yang dianutnya. Mungkin karena saya suka mendengar, ia begitu bersemangat dan berkata bahwa siapapun mengikuti ajarannya pasti masuk sorga dan bertemu bidadari cantik. Saya merasa bahwa saya tak perlu dikonversi bukan karena saya pemeluk teguh suatu agama , tapi saya merasa bahwa saya multi kultural. Bahkan dalam kepercayaan, saya langsung atau tak langsung dipengaruhi banyak ajaran. Saya lahir di keluarga Hindu, tapi kadang bermeditasi metta bhavana dan vipassana Buddha walau bukan meditator yang baik, menyukai kisah-kisah Sufi, mengagumi Lao Tzu, sekaligus seorang pendosa. Jadi saya bilang seperti paragraf di atas kepadanya bahwa sorga neraka adalah lebih merupakan tingkat kesadaran daripada tempat. Ia kecewa dengan jawaban saya dan tak muncul beberapa hari.
Ketika muncul lagi ke kost saya, ia kelihatan seperti orang yang depresi dan terguncang. Ia berkata," Suatu kali pendeta saya menjawab pertanyaan seorang janda yang pernah menikah dua kali yang bertanya kepadanya dengan suami yang mana ia akan menghabiskan kehidupannya kelak jika ia masuk sorga. Apakah dengan yang pertama atau kedua. Dan apakah ia bisa memilih. Jawaban sang pendeta adalah dengan suami ibu yang paling ibu cintailah ibu akan berbahagia di sorga." Ia agak memaksa saya mengakui kebenaran sorga versinya. Tapi sejak itu saya menghindar untuk berdiskusi maslah theologi dengan orang yang percaya. Saya menyesal mengatakan versi yang saya kenal. Hanya membuat teman saya jadi bingung.
Jika versi kisah bidadari legenda Rajapala adalah versi cerita terindah menurut saya, maka versi bidadari yang diceritakan oleh seorang tokoh senior ajaran spiritual dari India yang saya dengar beberapa waktu yang lalu di sebuah forum diskusi adalah yang paling membuat dahi saya berkerut . Awalnya semua yang dikatakannya mencerahkan. Hingga pada suatu saat ia bilang bahwa tujuan manusia adalah kembali ke "negeri asal" bukan dunia ataupun sorga. Di sorga orang menikmati pahala kesenangan temporer. Di sana ada semua kesenangan bahkan seks nya pun bebas dengan para bidadari cantik. Waw , rasanya saya pernah mendengar itu dari dakwah seorang berinisial SN , dan orang itu kemudian dibuli media dan mereka yang tak setuju dengan tafsirnya. Tapi yang satu ini versi India. Dan saya baru dengar setelah saya berkepala empat, Ternyata sungguh beragam pandangan manusia di dunia ini. Dan kali ini saya diam saja. Tak ada gunanya berdebat.
Balik ke soal bidadari. Bidadari berasal dari kata vidyadari sedang bidadari cowok adalah vidyadara (bidadara). "Vidya" artinya pengetahuan sedang "dara" berarti memiliki. Sungguh menarik hati orang yang berpengetahuan. Ada orang sekuler yang bilang pikiran itulah yang paling sexy..Andai hidup sesederhana etimologi..
19 Mei 2018
Berikut link tarian apsara atau bidadari bangsa Khmer.




No comments:

Post a Comment

  Entre Torse Nu et Kebaya Kadek, est-ce que c'est vrai que les anciennes balinaises étaient torses nus?  Une amie qui est par hasard d’...