Saturday, 31 October 2020

 Kupu-Kupu Barong (Papilio memnon) yang Anggun


Suatu hari,  aku, Tzu, bermimpi jadi kupu-kupu yang terbang kian kemari. Serasa benar-benar menjadi kupu-kupu. Aku hanya menyadari kebahagiaanku sebagai kupu-kupu, tak ingat bahwa aku adalah Tzu. Tiba-tiba aku terjaga, dan beginilah adanya, menjadi Tzu. Sekarang aku tidak tahu apakah  aku seorang manusia yang pernah bermimpi menjadi kupu-kupu ataukah aku seekor kupu-kupu yang sedang bermimpi jadi manusia…“
Mimpi Chuang Tzu, Parabel Tao


 Memnon si Hitam Besar

Nama latinnya adalah Papilio Memnon. Menurut epos Iliad, Memnon adalah nama dari seorang raja Ethiopia berkulit hitam legam, yang berperang di pihak Troya sebagi sekutu ketika negeri ini diserang oleh tentara Yunani.. Keperkasaanya membuat pejuang-pejuang Yunani gentar dan sempat terdesak lintang pukang, namun akhirnya ia gugur di tangan Achiles, sang pahlawan Yunani. Kupu-kupu ini dinamai Great Mormon dalam bahasa Inggris, kupu kupu Pastur dalam bahasa  Indonesia, dan disebut kupu-kupu barong di Bali. Dan semua nama di atas merujuk dua hal yakni ia memiliki warna dasar hitam dan berukuran besar.
Untuk mengidentifikasi kupu-kupu pertama-tama yang dilakukan adalah melihat ukurannya. Kebetulan kupu ini berukuran XL,  bentangan sayapnya mencapai 12-15 cm.



Selain hitamnya,  rama-rama ini memiliki dimorfisme seksual yang nyata. Dimorfisme seksual berarti adanya perbedaan yang mencolok antara jantan dan betina dalam satu spesies. Kalau dalam bangsa kera besar, termasuk manusia, jantan jauh lebih berotot dari betina, maka papilio memnon betina memiliki variasi warna dan bentuk yang lebih banyak dari sang jantan. Yang jantan memiliki 4 bentuk sedang yang betina tercatat memiliki 26 bentuk yang dikenal.
yang hitam dengan variasi merah ini, salah satu kultivar papilio memnon jantan
copy right natürliches museum wien
fotografer: Thomas Neubauer
salah satu kultivar papilio memnon betina
copy right natürliches museum wien
fotografer: Thomas Neubauer
    




Deskripsi fisik  :
Sayap depan  papilio memnon berwarna hitam
Bagian bawah  sayap depan berwarna coklat gelap, pada pingir luar terdapat banyak garis garis coklat. Terdapat sebuah bintik merah dekat badan.
Sayap belakang papilio memnon berwarna hitam. Pinggirannya bergelombang. Bilah luar sayap memilki strip-strip biru.Bagian bawah sayap belakang coklat gelap. Bagian pinggir luar berwarna coklat dan memiliki dua untaian titik-titik hitam. Terdapat dua titik merah dekat badan.
Perbedaan seksual:
Warna dasar dari  betina adalah coklat. Sayap depan berwarna coklat muda dan memiliki banyak strip coklat. Ada sebuah titik kuning dekat badan. Sayap belakang coklat dan memiliki ekor. Dekat badan terdapat sebuah area putih besar dengan vena berwana coklat gelap. Di pinggirnya , terdapat seuntai titik-titik kuning. Di bagian pinggir tengah terdapat sebuah titik serupa bola mata berwarna hitam. Badan (abdomen) berwarna hitam. Thorax (perut) dan kepala berwarna hitam. 


Agihan:
Papilio Memnon tersebar di Asia Selatan, Asia Tenggara, Jepang, Cina barat , selatan, Taiwan. Untuk di Indonesia terdapat di Sumatra , Jawa, Kalimantan, dan Sunda kecil (Bali dan Nusa Tenggara).


Papilio Memnon f. Achates yang bisa ditemukan di Indonesia


                                                                                                                                                        
Ulat Papilio Memnon di pohon Jeruk. Sumber gambar wikipedia



  
Agaknya tidak terlalu sulit untuk mengenali kupu-kupu ini karena ia besar dan ciri-ciri fisiknya yang khas.  Berbahagialah anda, jika masih bisa menikmati keindahannya di daerah anda. Saya, sayangnya, paling sering melihatnya di daerah saya di Bali saatberkungjung ke taman kupu kupu di Wanasari. Di alam bebas, terakhir saya menyaksikannya tiga bulan yang lalu di Gunung Kawi. Ia melayang sedang di atas bunga soka. Jadi pertanyaannya adalah apakah kita pernah melihat, atau akan bisa melihatnya lagi.

Untuk menopang kelestariannya ia memerlukan nektar bunga sebagai makanan dan keberadaan tanaman jeruk (citrus sp) sebagai inang.
Nb: tulisan ini akan secara berkala diedit dan ditambahi isinya.. 
===
Bahan bacaan:
1. ButterflyCorner.net
2.Wikipedia Indonesia dan Inggris
3.Butterflies of Bali by Victor Mason, illustrated by I Ketut Laksana,
4.Berbagai sumber   

Guntur Suyasa
Banjar Seseh, Culeg, 19072014

Kutukan Raksasa Bali; The Curse of an Ogre (Peh Bali Cartoon)



Jembatan Kuno Dharmasaba Sibang

Catatan harian 24 Februari 2011 (pernah dimuat di Kompasiana)

Akhirnya, kemarin, keinginan saya untuk pergi mengunjungi jembatan Bali kuno di perbatasan desa Sibang dan Dharmasaba terwujud juga. Berita tentang eksistensi jembatan yang jarang diketahui orang ini saya dapat dari beberapa media lokal Bali beberapa bulan yang lalu. Bali Post (11/11 2010) mengabarkan bahwa jembatan ini dibangun pada abad ke 19 yang lalu ketika kerajaan Badung menginvasi kerajaan Mengwi

Dan saat ini walau masih berdiri mengalami kerusakan sehingga perlu direnovasi. Bali kaya akan bangunan bersejarah namun jembatan kuno yang masih tetap berdiri hingga kini belum pernah saya ketahui sebelumnya. Keingintahuan dan beberapa pertanyaan yang muncul terutama tentang masa pendirian jembatan  setelah membaca berita-berita tersebut, menjadi dendam rasa, yang pada akhirnya membawa  saya ke situs tersebut. Setelah bertanya sekali,  dari jalan utama Dharmasaba yang terletak kira-kira 8 kilometer dari Denpasar,  akhirnya saya tiba di  sebuah jalan   kecil menuju jembatan. 

Beberapa meter dari jembatan, seorang lelaki paruh baya penyabit rumput  yang kebetulan mengetahui maksud kedatangan saya, secara sukarela, menawarkan bantuan jika saya mau melihat-lihat atau turun menuju sungai Ayung di bawah jembatan untuk memotret. Ia bilang saya harus hati-hati kalau mau turun ke sungai, kadang licin. Karena baterai kamera lupa di-charge, dengan terpaksa saya harus pergi dulu  ke mini market  terdekat untuk membeli baterai alkaline dan menolak tawarannya. Dia tersenyum dan mengatakan bahwa saya bukan orang luar desa pertama yang datang ke sana khusus untuk melihat jembatan kuno. Setelah pemberitaan media, ada beberapa mahasiswa arsitektur dan yang lainnya  yang bertandang. Dan mereka rata-rata kecewa karena rencana renovasi jembatan,  dengan bahan-bahan kuno tanpa semen yang sempat diberitakan pula,  belum juga dimplementasikan. Setelah saya balik ke sana, laki-laki itu telah pergi. Tapi dasar nasib lagi baik, saya dapat kenalan lagi, Bapak Kayun, seorang pemilik showroom mobil di jalan Dharmasaba yang kebetulan hendak sembahyang di pura Prajapati (pura kematian) dekat jembatan. Ia memberi saya banyak informasi tentang jembatan itu. Oh ya, jembatan kuno ini menghubungkan tidak saja dua desa yakni Sibang dan Dharmasaba namun juga dua buah kuburan desa. 

Jembatan Kuno Sibang- Dharmasaba, yang diaspal lima belas tahun yang lalu dan ubin aslinya yang terbuat dari batu bata dibongkar."Setelah melihat jembatan selebar lima meter dan di bagian timurnya agak sedikit longsor itu, saya sempat kecewa karena ia beraspal layaknya jembatan modern. Hanya pelinggih (bangunan suci kecil) dan prasasti yang dipahat di tepi  di ujung barat jembatan yang menunjukkan bahwa jembatan itu berasal dari zaman silam. Pak Kayun kemudian bercerita bahwa jembatan itu baru diaspal kira-kira lima belas tahun yang lalu, sebelumnya lantainya terbuat dari batu bata kuno yang besar -besar. Ia menyayangkan pengaspalan jalan yang tidak mempertahankan keaslian jembatan.

12985582181494640090

 Prasasti yang terpahat pada ceruk gua buatan dari bangunan suci kecil tidak dapat saya baca dengan baik. Pak Kayun telah permisi untuk balik sembahyang di Pura Prajapati, dan saya tak berani masuk ke area pelinggih karena bukan orang lokal, tak berpakaian sembahyang, dan takut dikira pencuri benda kuno; sesuatu yang sekarang kerap terjadi di Bali. Namun sempat terbaca oleh saya nama dari salah satu  pendiri dari  jembatan ini yakni Kyai Anglurah Gde Mamal Sakti. Media menulis bahwa pendiri lainnya adalah I Gusti Agung Kamasan. Jembatan dibangun sebagai tanda perdamaian antara kedua penguasa wilayah. Tertera di prasasti, nama Kyai Anglurah Gde Mamal (salah satu pendiri jembatan). Kata Gde tak terekam di gambar ini.. 
12985607531895731791

Setelah saya turun melewati anak-anak tangga menuju sungai Ayung, baru saya melihat orijinalitas dan sulitnya pembangunan jembatan ini dulu kala. Tampak jelas bahwa jembatan ini terbuat dari batu-batu padas besar dengan mortar yang terbuat dari tanah. Menurut literatur yang pernah saya baca untuk membuat mortar dari lumpur,  tanah tersebut difermentasi terlebih dahulu selama beberapa hari.   Arus sungai Ayung demikian deras di bagian ini. Tentunya pembangunan jembatan ini dulu tidak mudah dan  realisasinya merupakan sebuah pencapaian arsitektural. 

Sungai Ayung di bawah jembatan Sibang-Dharmasaba. Sungai Ayung yang biasa dipakai rafting adalah bagian yang terletak di Ubud. Beberapa pemancing yang memancing di malam hari konon hilang di sini. Mungkin karena kadang tepi sungai yang miring licin sehabis hujan. "
12985623291723004395
12985623291723004395
"Bagian bawah jembatan. Tampak batu-batu padas kuno dan mortar dari tanah. "]
1298562594637918413
Ketika saya balik dari jembatan dan hendak pulang, saya bersua lagi dengan Pak Kayun dan berbincang-bincang cukup lama. Ia membenarkan legenda lokal yang ditulis media bahwa ketika serombongan tentara Belanda hendak menyerang kerajaan Badung (serangan dilakukan dari beberapa arah), mereka harus melintasi jembatan ini. Tapi beberapa ekor ular  melintang di jembatan tersebut  sehingga mereka tidak jadi menggunakannya. Versi yang lain mengatakan bahwa mereka melihat jembatannya terkadang tampak  jadi tiga.  Lalu mereka memutuskan untuk membuat jembatan besi baru beberapa puluh meter dari sana. Namun bisa jadi mereka melakukan itu karena mengira jembatan tak cukup kuat dilalui tentara dengan meriam-meriam mereka. Yang jelas penduduk sekitar memandang jembatan ini sebagai jembatan perdamaian yang sakral dan angker. Kami juga sepakat bahwa jembatan ini dibangun pada abad ke-19 bukan abad ke-14 seperti ditulis Bali Post. Menurut legenda lokal dan Bali Post,   jembatan dibangun pada masa penyerangan kerajaan Badung ke Mengwi. Sesugguhnya perang dua kerajaan ini terjadi pada abad ke 19 atau tepatnya pada tahun 1891. Pada abad ke-14 kerajaan Badung dan Mengwi belum wujud. Bali jatuh ke tangan Majapahit pada tahun 1343 lalu menjadi kerajaan vassal. Bali terpecah menjadi beberapa kerajaan mulai akhir abad ke-17. Badung sebelumnya adalah wilayah Mengwi. Ini adalah sebuah pengetahun umum dari sejarah Bali. Berarti  jembatan tersebut berumur kurang dari 200 tahun.

Ketika saya pamit pulang, Pak Kayun mengundang saya untuk melihat dan menyucikan diri dengan membasuh muka, tangan , dan kaki  di pancuran mata air suci dari pura Prajapati. Kami pun menyusuri tebing sungai dan sampai di petirtan itu. Suasananya sangat tenang dan damai. Setelah wajah segar terpapar air yang jernih saya pulang dengan hati puas dan pikiran yang lebih lapang.

12985678001539058391

Amabie, Yokai yang Baik: Amabie a Benevolent Yokai (Peh Cartoon)


 

  Entre Torse Nu et Kebaya Kadek, est-ce que c'est vrai que les anciennes balinaises étaient torses nus?  Une amie qui est par hasard d’...