Monday, 2 November 2020

 

Entre Torse Nu et Kebaya



Kadek, est-ce que c'est vrai que les anciennes balinaises étaient torses nus?  Une amie qui est par hasard d’autre ile indonésienne m'a demandé.
Oui c'est vrai, elles étaient torse nues.  Comme les africaines de l'époque, comme les autres indonésiennes des autres tribus, lors qu'elles étaient hindouistes, paganes, ou animistes, avant de convertir. Comme tes ancêtres aussi. Je lui ai répondu sans parler,  avec un sourire. Elle ne voulait pas me heurter, juste une curiosité.
les anciennes filles balinaises


Elles étaient torses nus car il faisait  chaud. Occasionnellement, elles se couvraient avec un type de grande ceinture ou un pare haut, jusqu'au torse. Les seins n'étaient pas tabous à voir c'était les cuisses qu'elles devaient couvrir. Maintenant les valeurs changent, les seins ne sont pas à montrer. Mais nos jeunes il y en a qui  portent la minijupe en se baladant en ville, ou en jouant du hula hoop.

Les femmes balinaises en kebaya allant au temple


Kadek ou je peux trouver la tenue balinaise souvent avec la dentelle porte par les pèlerines pour aller au temple? Une cliente  m'as demandé.
Il y en a au marché qui est prêt a porter. Mais le vrai est toujours taillé. On le fait coudre chez une voisine, la couturière. C'est toujours une dame qui le coud car  les filles aimeraient bien qu'elle soit serré selon leur taille. On l'appelle Kebaya en indonésien. Ça vient du mot abaya, qui signifie, en arabique la robe longue.

Kebaya est une robe combinée avec un tissu de batik. La tenue a été populaire depuis l'islamisation car un pare haut, ne se mettaient pas au diapason avec les nouveaux valeurs plus pudiques.
deux hotesses de la compagnie aeriennes Garuda Indonesia en Kabaya.
Source d'image; site de Garuda.





Elle était populaire depuis 15-16 siècle en Indonésie mais introduite à Bali beaucoup plus tarde après la colonisation balinaise a 19ieme siècles.  Les missionnaires jésuites  se sont plaignés au gouvernement colonial car les soldats coloniaux aimaient bien être debout au bord de la route en voyant les hindouistes balinaises sans couvert au torso. Puis le gouvernement on l y'a introduite pour plaire les évangélistes de cet ordre.



Son nom est d'origine arabique, mais en fait, sa forme était tirée d'une tenue chinoise qu'on appelle cheongsam. C'était adopté et adapté pendant des siècles en Indonésie et après l'évolution, elle se rassemblait pas trop à une tenue de chinoises.


Kadek Sri, Une guide balinaise
texte edite par Guntur et Ngurah Eka

New Musical compostion and song by Balawan : Lock Down Love

Sunday, 1 November 2020

 Renungan tentang Bidadari

Kisah paling indah tentang bidadari yang pernah saya dengar adalah kisah tentang Rajapala ( dalam cerita Jawa disebut Joko Tarub), seorang pemuda bumi biasa yang berhasil menikahi seorang bidadari yang cantik luar biasa, Ken Sulasih ( di versi Jawa di sebut Nawang Wulan) dengan tipu daya. Ketika ia sedang berburu, tanpa sengaja ia melihat lalu mengintip tujuh bidadari yang sedang mandi di sebuah kolam dalam hutan. Ia mencuri salah satu selendang sakti yang bergeletakan, karena ia tahu bahwa selendang itu adalah alat terbang seorang bidadari. Ken Sulasih, pemilik selendang yang dicuri, tak punya pilihan karena ditinggal teman-temannya ke kahyangan di petang hari, menerima ajakan si pemuda untuk tinggal sementara di rumahnya sampai selendang itu ditemukan. Akhirnya karena sering bersama tumbuhlah cintanya kepada Rajapala dan kemudian ia setuju dipersunting olehnya.
Singkat cerita, pernikahan itu menghasilkan seorang anak bernama Durma. Sungguh sayang, ketika Durma masih kecil, karena musim kemarau berkepanjangan, ibunya yang harus mengambil padi simpanan di lumbung padi, menemukan selendang terbangnya di bawah ikat padi terakhir. Di situlah ternyata sang suami menyembunyikannya selama bertahun-tahun. Dengan berat hati, ia terbang ke langit meninggalkan anak dan suaminya karena bagaimanapun rumahnya adalah di "svarga" (sorga).
Saya mendengar cerita ini beberapa kali dengan berbagai bumbu. Dan suatu kali ada yang menceritakannya begini, "Jadi para bidadari itu walau tinggal di taman sorga yang indah, kadang bosan juga dan mereka perlu jalan-jalan di berbagai pelosok alam semesta, termasuk ke bumi. Sesungguhnya planet kita ini pun seindah sorga, tapi sayangnya kita tak menyadarinya dan menghargainya." Sungguh penyampaian yang meluaskan imajinasi dan pemikiran seorang anak.
Selain itu saya juga mendengar atau membaca
kisah tentang bidadari lainnya . Ada kisah Arjuna Wiwaha tentang Supraba yang dijadikan hadiah buat Arjuna karena telah membebaskan kahyangan dari invasi raksasa Niwatakawaca. Kadang diceritakan pula bahwa para bidadari kerap menganggu meditasi para pertapa dengan kemolekan dan kecantikan agar mereka gagal dalam usaha untuk mencapai pembebasan rohani.
Kata bidadari berasal dari bahasa Sanskerta vidyadari (dibaca widyadari , karena v dibaca w dalam penulisan latin dari Sanskerta). Bidadari dalam mitologi Hindu adalah mahkluk cantik penghuni alam yang lebih tinggi dari alam kita. Mahkluk penuh cahaya dan kadang pula disebut mahkluk etherial. Pokoknya top model bumi yang tercantik pun kalah jauh dari kecantikan bidadari.
Para vidyadari adalah perempuan sedang kaum prianya disebut vidyadara. Dalam mitologi Hindu diceritakan bahwa Indra adalah pimpinan kahyangan dan ia sangat suka tari-tarian yang dibawakan oleh para vidyadari yang kadang juga disebut apsara. Mereka menari diiringi oleh musik yang dibawakan oleh para gandarwa, mahkluk bersinar musisi sorga. Sorga banyak penghuninya.
Walau mengenal istilah svarga dan naraka, tapi konsep sorga neraka kurang dibahas dalam Hinduisme dan Buddhisme yang saya kenal karena kebetulan saya lahir di pulau Bali. Dalam Hinduisme, sorga dan neraka kurang ditekankan dibanding konsep hukum Karma. Dan sorga bukanlah tujuan akhir, hanya tempat sementara seperti halnya dunia. Dan tujuan utama adalah moksa atau kebebasan spiritual, kebebasan dari belenggu kelahiran dan kematian yang berulang-ulang, bebas dari reinkarnasi.
Para pemimpin spiritual yang saya kenal umumnya menghindar kalau ditanya orang tentang apakah sorga dan neraka itu benar-benar ada. Ada yang menjawab bahwa ia tidak tahu karena belum pernah meninggal, ada yang menjawab dengan senyum.
Ada yang menjawab dengan kutipan sanskerta "na svargo na rasatalah" yang bermakna : tiada sorga dan neraka, seperti di sebuah perguruan Tantra Yoga yang pernah saya ikuti. Bahwa sorga dan neraka itu hanya simbol, alat untuk mengiming-imingi manusia agar menjauhi kejahatan dan mencintai kebijaksanaan. Penggambaran sorga pun mirip keadaan di dunia: ada berbagai kesenangan, ada bidadari yang cantik, ada beraneka buah-buahan, musik dan tari, para musisi. Tak jauh dari gambaran kesenangan duniawi. Sorga dan neraka adalah lebih merupakan "state of mind". Svarga sendiri dalam bahasa Sanskerta berarti cahaya atau terang.
Ketika saya dulu kuliah di Yogya ada teman yang berusaha menkonversi saya ke agama yang dianutnya. Mungkin karena saya suka mendengar, ia begitu bersemangat dan berkata bahwa siapapun mengikuti ajarannya pasti masuk sorga dan bertemu bidadari cantik. Saya merasa bahwa saya tak perlu dikonversi bukan karena saya pemeluk teguh suatu agama , tapi saya merasa bahwa saya multi kultural. Bahkan dalam kepercayaan, saya langsung atau tak langsung dipengaruhi banyak ajaran. Saya lahir di keluarga Hindu, tapi kadang bermeditasi metta bhavana dan vipassana Buddha walau bukan meditator yang baik, menyukai kisah-kisah Sufi, mengagumi Lao Tzu, sekaligus seorang pendosa. Jadi saya bilang seperti paragraf di atas kepadanya bahwa sorga neraka adalah lebih merupakan tingkat kesadaran daripada tempat. Ia kecewa dengan jawaban saya dan tak muncul beberapa hari.
Ketika muncul lagi ke kost saya, ia kelihatan seperti orang yang depresi dan terguncang. Ia berkata," Suatu kali pendeta saya menjawab pertanyaan seorang janda yang pernah menikah dua kali yang bertanya kepadanya dengan suami yang mana ia akan menghabiskan kehidupannya kelak jika ia masuk sorga. Apakah dengan yang pertama atau kedua. Dan apakah ia bisa memilih. Jawaban sang pendeta adalah dengan suami ibu yang paling ibu cintailah ibu akan berbahagia di sorga." Ia agak memaksa saya mengakui kebenaran sorga versinya. Tapi sejak itu saya menghindar untuk berdiskusi maslah theologi dengan orang yang percaya. Saya menyesal mengatakan versi yang saya kenal. Hanya membuat teman saya jadi bingung.
Jika versi kisah bidadari legenda Rajapala adalah versi cerita terindah menurut saya, maka versi bidadari yang diceritakan oleh seorang tokoh senior ajaran spiritual dari India yang saya dengar beberapa waktu yang lalu di sebuah forum diskusi adalah yang paling membuat dahi saya berkerut . Awalnya semua yang dikatakannya mencerahkan. Hingga pada suatu saat ia bilang bahwa tujuan manusia adalah kembali ke "negeri asal" bukan dunia ataupun sorga. Di sorga orang menikmati pahala kesenangan temporer. Di sana ada semua kesenangan bahkan seks nya pun bebas dengan para bidadari cantik. Waw , rasanya saya pernah mendengar itu dari dakwah seorang berinisial SN , dan orang itu kemudian dibuli media dan mereka yang tak setuju dengan tafsirnya. Tapi yang satu ini versi India. Dan saya baru dengar setelah saya berkepala empat, Ternyata sungguh beragam pandangan manusia di dunia ini. Dan kali ini saya diam saja. Tak ada gunanya berdebat.
Balik ke soal bidadari. Bidadari berasal dari kata vidyadari sedang bidadari cowok adalah vidyadara (bidadara). "Vidya" artinya pengetahuan sedang "dara" berarti memiliki. Sungguh menarik hati orang yang berpengetahuan. Ada orang sekuler yang bilang pikiran itulah yang paling sexy..Andai hidup sesederhana etimologi..
19 Mei 2018
Berikut link tarian apsara atau bidadari bangsa Khmer.




 Cerita Suku Indian Sioux Amerika : Diceritakan kembali oleh Marie L. McLaughlin in "Myths and Legends of the Sioux" ; 1913.




Setongkol Jagung yang Terlupakan
Seorang perempuan Arikara sedang mengumpulkan jagung dari ladang untuk disimpan guna cadangan musim dingin, Ia beringsut dari batang ke batang, memetik tongkol-tongkol jagung dan menjatuhkannya ke atas rok panjangnya yang dilipat.
Ketika semuanya telah terkumpul dan ia hendak beranjak pergi, ia mendengar suara merintih, seperti suara seorang bocah yang menangis dan memanggil-manggil : "Oh, jangan tinggal aku! Jangan pergi tanpa aku.”
Wanita itu terheran-heran. “Anak macam mana pula itu?,” bathinnya. “Anak siapakah yang tersesat di kebun jagung?”
Ia melepaskan ikatan rok panjangnya di mana ia menaruh jagungnya, dan berbalik untuk melakukan pencarian; namun ia tak menemukan apapun. Ketika ia hendak pergi didengarnya lagi suara itu,” Oh, jangan tinggal aku. Jangan pergi tanpa aku.”
Ia mencari cukup lama. Pada akhirnya, di sesudut ladang, tersembunyi di balik daun-daun batang jagung, ia menemukan setongkol jagung kecil.
Tongkol inilah yang tadi menangis, meratap-ratap. Semenjak peristiwa itu semua perempuan Indian kemudian memelihara ladang jagungnya dengan sangat hati-hati, sehingga tidak ada sebiji hasil pangan pun yang terlupakan atau terbuang, dan membuat kecewa sang Misteri Agung.
===
Keterangan: Wanita indian ada yang memakai rok panjang semata kaki. Sering waktu panen roknya dilipat agak ke atas untuk menaruh hasil panen sementara waktu, lalu roknya disimpul agar tidak lepas.
Disadur G. Suyasa dari www.earthbow.com/native


 


Tengkek Barong, Cekakak Jawa, Raja Udang yang Trengginas dan Cantik


Ia sebuah keindahan yang  telah datang dari masa lalu. Saya termasuk ke dalam generasi terakhir  yang ketika masih kanak-kanak bisa bermain di tanah lapang yang luas, di rerimbunan peta-petak sebelah rumah yang belum dibangun, yang berteriak minta uang kepada kapal terbang yang melintas jauh di langit. Dan hanya beberapa lemparan batu dari petak bermain,  terhampar sawah –sawah dengan kali-kali kecil irigasi. Disitulah saya kerap termangu melihat tampangnya  yang cantik. Paruhnya berwarna merah runcing panjang dan kerap terbuka.Kakinya juga merah. Perawakannya pendek tegap, bulunya berkilat dengan komposisi warna yang mencolok dengan dominasi biru pirus. Kepala, sebagian sayapnya; di bagian bawah, atau dalam istilah ornitologi disebut penutup sayap, berwarna  hitam kecoklatan.

Nama latinnya adalah halcyonus cyanoventris. Halyconus berarti  tenang.  Mungkin ini diambil dari gaya tongkongan burung ini  yang tenang dan anggun ketika hinggap di batang atau ranting pohon yang biasanya terletak dekat air, baik kali, sungai,kolam atau saluran irigasi. Sedangkan cyanoventris maknanya berperut  biru. Genus Halyconus  adalah salah satu dari 3 genus dari suku Alacideae atau burung raja udang.

Nama balinya adalah tengkek barong,  di Jawa kadang dipanggil tengkek atau cekakak. Inggrisnya adalah javan kingfisher dan dalam bahasa Indonesia lazim disebut cekakak jawa. Menurut Morten Strange burung yang tinggal di daerah pedesaan ini kuantitasnya sedang mengalami penurunan di Jawa namun masih mudah dilihat di pulau Bali.

Indonesia yang kaya keragaman hayati, menurut literatur, tercatat memiliki 23 spesies raja udang yang tersebar dari Aceh hingga Papua. Lima di antaranya dapat ditemukan di Bali; common kingfisher (pekaka cit-cit), blue eared kingfisher (raja udang meninting), javan kingfisher (cekakak jawa), small blue kingfisher (raja udang biru), oriental dwarf king fisher (pekaka api), stork billed kingfisher (pekaka paruh pendek/kekar).  Seumur hidup, ataupun sepanjang trekking yang penulis lakukan sekarang sebagai pemandu wisata di Bali, hanya cekakak jawa yang kerap saya lihat. Rasanya saya pernah melihat  pekaka cit-cit. Sedang yang lainnya sayangnya belum pernah saya lihat di alam liar.


 pekaka cicit


 raja udang meninting

pekaka api




Cekakak tak penah  terbang terlalu tinggi, namun  ia bisa melesat dengan pesat. Dari tempatnya bertengger  bisa terbang cepat menuju pohon lain,menyambar serangga di udara,  atau terkadang terbang turun vertikal ke kali, kolam, parit, kemudian terbang kembali ke atas dengan mangsa berupa ikan kecil di paruhnya. Sungguh cepat dan trengginas. Sering juga ia menyergap serangga di atas padang rumput. Ketika terbang kita dapat melihat bintik-bintik putih di sayapnya.


Ia bertelur hingga 3-4 butir dan telur diperam di dalam sarangnya berupa terowongan dalam tanah.

Ketika masih kuliah dulu di tahun 90-an, saya bersua burung ini di pasar burung Yogakarta. Tentunya ini adalah pertemuan yang menyedihkan. Walaupun ukurannya sedang saja, mencapai 25 sentimeter seekor cekakak jawa yang biasa terbang bebas lepas di alam liar, yang mampu terbang cepat dan menukik untuk menangkap ikan tentunya merasa tersiksa berada dikandang sempit dan hanya diberi makan jangkrik.  Walau tak lazim, di Indonesia ternyata ada penggemar burung  yang berusaha untuk memeliharanya dalam sangkar. Dan kata penjualnya kebanyakan memang tak bisa hidup lama kalau dipelihara.

Alam terkembang menjadi guru kata orang Minang. Raja udang bisa berarti lebih bagi yang mau belajar dan menghargai alam. Bangsa Jepang meniru bentuk paruh raja udang untuk mendapatkan bentuk aerodinamis terbaik bagi kepala lokomotif kereta api cepatnya, shinkansen.
Burung ini adalah juga sebuah penanda apakah sebuah daerah airnya tercemar atau tidak, sebab ia tidak dapat  tinggal di seputaran air yang kualitasnya buruk.



Semoga saya selalu dapat bersua dengan si tengkek barong, ketika trekking, bersepeda di pedesaan, menyusuri sungai, bukan di pasar. Ia selalu saya rindukan walau ia tak pernah rindu pada saya : )
==
Bahan bacaan:
- A photographic Guide to the Birds of Indonesia, text and photo by Morten Strange, Periplus Edition , 2001.
-Birds of Southeast Asia, Craig Robson, Princeton Filed Guides, 2005
-Wikipedia Inggris, Prancis, Indonesia’
-Berbagai sumber.

'''
Guntur Suyasa
Banjar Seseh,  Desember 2015

Tahyul Bali seri 2

 Hidung Pesek vs Hidung Mancung

Hidung orang Kukasia di Eropa umumnya mancung sedangkan orang berdarah mongoloid di Asia punya hidung mungil, tidak terlalu mencuat dan tulang dekat ujung dan cuping hidungnya lebih lentur, alias berhidung pesek.
Hidung pesek menurut penulis keren juga. Zaman pebulutangkis Ardy B.W. berjaya dahulu di tahun 90-an, di mata saya Ardy B.W. sangat gagah dengan rambut panjang, cuping hidung lebar, serta lobang hidung besarnya. Hidung pembawa hoki kata sementara orang. Ingin rasanya punya hidung seperti itu.
Pada akhir abad ke-19, Arthur Thomson, seorang anthropolog dan anatomist Inggris mengatakan bahwa bentuk hidung berkaitan dengan iklim. Orang dari daerah beriklim panas cenderung memiliki hidung yang lebih rata dan tebal sedang orang dari daerah beriklim dingin cenderung berhidung lebih panjang (mancung) dan tirus.
Salah satu fungsi hidung adalah untuk memanaskan dan melembabkan udara yang kemudian mauk ke paru-paru. Jika hidung lebih panjang, maka semakin lama pula rentang waktu pemanasan udara di buluh hidung. Demikian pula sebaliknya, di daerah panas, udara tak perlu lama-lama dipanaskan, sehingga panjang hidung diirit. Tentunya teori ini berkaitan dengan paham teori evolusinya Darwin yang di Indonesia banyak ditentang para pemeluk teguh...
Walau teori hidung yang disebut Thomson's Nose Rule ini sudah uzur, namun tak ada yang mematahkannya sampai sekarang
Evolusi memerlukan waktu beribu-ribu tahun, itulah sebabnya orang berdarah Indonesia yang lahir di negara Eropa tidak serta merta berhidung mancung.
Jadi anggap saja hidung kita adalah anugrah..😁







..
Corat- coret iseng malam
gs

  Entre Torse Nu et Kebaya Kadek, est-ce que c'est vrai que les anciennes balinaises étaient torses nus?  Une amie qui est par hasard d’...